Rabu, 29 Agustus 2012

GALUNGAN & KUNINGAN


GALUNGAN & KUNINGAN: DARI APA MENUJU BAGAIMANA

Sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=394310677289687&set=a.284116491642440.82607.100001322735400&type=3&theater
Posted by : I Wayan Sukadana, S.Hut ; 
Rabu 29 Agustus 2012 (Hari Galungan)


Di setiap menjelang Hari Raya Galungan & Kuningan, hati kita sering tersentuh karena mendapat kiriman pesan atau kartu ucapan selamat, baik melalui media sms, bbm, email, termasuk facebook. Tersentuhnya karena dua hal. Pertama, rasa syukur dan terimakasih atas kiriman tersebut. Kedua, dalamnya isi pesan
ungkapan hati yang disampaikan melalui slogan-slogan indah seperti “kemenangan dharma atas adharma”, “kendalikan sadripu (enam musuh) dalam diri”, “semoga semua menemukan kebaikan”, dan sebagainya.

Tertarik untuk menerjemahkan slogan-slogan indah tersebut, dengan segala kerendahan hati kami mencoba mengelaborasinya, membawanya dari “Apa” (“What”) menuju ke “Mengapa” (“Why”) dan “Bagaimana caranya” (“How to”) untuk memberi warna lain dalam memberi ucapan selamat Hari Raya Galungan & Kuningan.

Semoga Catatan Kecil ini berguna bagi pelengkap hadirnya Galungan (Rabu, 29 Agustus 2012), dan Kuningan (Sabtu, 09 September 2012), khususnya bagi yang merayakan. Kami pun berharap semoga Catatan Kecil ini berguna bagi siapa pun tanpa kecuali termasuk saudara-saudara kami yang tidak merayakannya, karena spirit Galungan & Kuningan sepantasnya memberi manfaat bagi kemanusiaan secara universal.


Manusia dan Fikirannya

RenĂ© Descartes, seorang filsuf dan matematikawan Perancis (lahir di La Haye, Perancis, 31 Maret 1596 – meninggal di Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650 pada umur 53 tahun) mengatakan “Cogito Ergo Sum” (aku berfikir maka aku ada). Sidharta Budha Gautama, avatar inkarnasi Sri Visnu ke-9, mengatakan “Semua kita adalah hasil dari fikiran kita”. Karenanya, Budha mengajarkan pemurnian fikiran – yang merupakan akar dari segala kebaikan dan kejahatan, sebab dari penderitaan maupun kebahagiaan sejati. Dewi Gangga, salah satu perwujudan-Nya sebagai dewi kesuburan dan pembersih segala dosa, menyampaikan sabda “manusia saat ini sedang menerima takdir atas fikirannya sendiri”.

Pesan dan sabda di atas menunjukkan pentingnya fikiran pada manusia. Oleh karenanya, saya memulai Catatan Kecil ini dengan mengulas secara singkat anatomi manusia untuk memahami fikiran.

Manusia terdiri atas Spirit dan materi. Spirit adalah Diri Sejati, yang biasa dikenal dengan sebutan Jiwa, Atman, Ruh, Qolbu, Nur, Soul, dan sebagainya. Materi terdiri atas tubuh (body), akal-fikiran (mind) dan intelek (budhi, intellect).

Spirit yang adalah Diri Sejati manusia hakikatnya adalah Jiwa yang merupakan Cahaya Cinta-Kasih. Jiwa setiap mahluk termasuk jiwa manusia adalah percikan yang tak terpisahkan dari Tuhan Yang Mahaesa, Samudera Cinta Kasih Tak Terbatas.

Tubuh atau Badan Kasar terbentuk oleh lima unsur alam yang terdiri dari ruang, udara, api, air, dan tanah. Ke lima unsur ini satu per satu kembali ke alam saat seseorang meninggalkan dunia ini menuju dunia lain. Menurut Swami A. Parthasarathy, filosof modern pendiri dan pemimpin Vedanta Academy, Badan Kasar ini disebut sebagai Physical Personality, yang dihidupi oleh Jiwa untuk menjalankan fungsi menerima rangsangan obyek dan bertindak (sense-objects and actions). Tubuh terdiri atas organ persepsi dan organ bertindak. Organ persepsi yang berupa panca indera digunakan untuk mempersepsi dan menerima rangsangan dari lingkungan dunia. Mata untuk melihat warna dan bentuk, telinga untuk mendengar suara, hidung untuk membau, lidah untuk mengecap rasa, kulit untuk merasakan sentuhan.

Akal-fikiran (mind) terdiri atas fikiran, perasaan, keinginan, dan dorongan nafsu. Jiwa menghidupi akal-fikiran (mind) untuk merasakan kenikmatan, senang, sedih, cinta-kasih, benci, puas, kesabaran, keterikatan, marah, cemburu, dan sebagainya; yaitu aspek-aspek emosi. Swami A. Parthasarathy menyebut Akal-fikiran sebagai Emotional Personality.

Sedangkan intelek (budhi, intellect) dihidupi oleh Jiwa dengan tujuan digunakan untuk berfikir, memahami, menalar, menilai, dan memutuskan. Fungsinya untuk memandu dan mengarahkan akal-fikiran (mind) dengan emosinya maupun tubuh (body) dengan persepsi dan dan bertindaknya. Menurut Swami A. Parthasarathy, ada dua jenis intelek, yaitu gross-intellect yang berfungsi untuk berfikir disebut Intellectual Personality dan subtle-intellect yang berfungsi untuk melakukan kontemplasi disebut Spiritual Personality.


Takdir dan Nasib

Perjalanan kehidupan manusia adalah rangkaian fikiran, ucapan dan perbuatan. Seperti disampaikan di atas, fikiran berfungsi memandu dan mengarahkan akal-fikiran (mind) dan tubuh (body). Dengan demikian, fikiran memandu dan mengarahkan gerak emosi dan tindakan manusia melalui ucapan dan perbuatannya.

Perjalanan kehidupan Jiwa berjalan melalui untaian waktu masa lalu, masa kini, dan masa depan; melalui rangkaian perjalan kelahiran dan kematian yang berulang, berganti dari satu tubuh ke tubuh lainnya, berganti dari satu peran ke peran lainnya.

Rekaman rangkaian fikiran, ucapan dan perbuatan yang menyertai Jiwa dalam perjalanan di masa lalu disebut vasana, hasil perbuatan bawaan, atau takdir. Takdir bisa baik bisa buruk tergantung fikiran, ucapan dan perbuatan di masa kehidupan dahulu. Takdir tinggal dijalani, tidak bisa ditolak atau pun diminta.

Untaian perjalan Jiwa di masa depan adalah nasib, yang sepenuhnya terletak pada kehendak bebas (free will), ditentukan oleh rangkaian fikiran, ucapan dan perbuatan di masa kini yang berpadu dengan takdir; berjalan alami sesuai dengan hukum universal sebab-akibat kehidupan tanpa diskriminasi apa pun. Tua-muda, kaya-miskin, tinggi-rendah, apa pun sukunya, apa pun agamanya, apa pun kewarganegaraannya, dan sebagainya sama-sama terikat pada hukum sebab-akibat kehidupan di alam semesta. Fikiran, ucapan dan perbuatan kita saat ini menentukan dan menjadi takdir kehidupan kita ke depan. Kita bebas menentukannya, boleh baik boleh buruk, boleh positif boleh negatif, karena masing-masing kita sendiri yang akan menikmati hasilnya. Seperti membuat video dokumentasi, alam semesta hanya merekam; semua hasil rekaman fikiran, ucapan dan perbuatan kita dikembalikan kepada kita untuk dinikmati.

Karena hakikatnya manusia adalah Jiwa yang disertai materi yang berupa tubuh, akal-fikiran, dan intelek; sedangkan Jiwa adalah Cahaya Cinta-Kasih; maka secara alamiah manusia sebetulnya akan memilih untuk baik dan suci dalam fikiran, ucapan dan perbuatan. Itu sebabnya, untuk mendukung kebaikan dan kesuciannya Hindu mengajarkan manusia untuk senantiasa membersihkan dan menyucikan fikiran, ucapan dan perbuatan; yang disebut Trikaya Parisuda. Berfikir baik, bersih dan suci disebut Manacika, berkata yang benar dan baik disebut Wacika, dan berbuat baik dan jujur disebut Kayika.


Positive Mental Attitude

Untuk ketiga kalinya saya ulang, bahwa fikiran berfungsi memandu dan mengarahkan akal-fikiran (mind) dan tubuh (body). Dengan demikian, fikiran memandu dan mengarahkan ucapan dan tindakan manusia.

Karena untuk masa depan kita memiliki kehendak bebas menentukan nasib diri sendiri, kita boleh menuangkan sejuknya air bening cinta-kasih atau sebaliknya menuangkan kelam-legamnya racun kebencian ke dalam fikiran kita; dan apa yang kita tuangkan akan menjadi ucapan dan tindakan kita.

Bila kita menuangkan sejuknya air bening cinta-kasih maka kita akan menunjukkan sikap memeluk orang lain sebagai saudara, memperlakukan orang lain penuh respek dan peduli, membangun kebiasaan diri bersikap dari “saya” menjadi “kita”. Sebaliknya, bila kita menuangkan kelam-legamnya racun kebencian maka kita akan melihat orang lain sebagai musuh, meremehkan dan bahkan menistakan orang lain; membangun kebiasaan diri bersikap “saya” lawan “kamu”, dengan segala alasan pembenarannya.

Membangun Sikap Mental Positif (Positive Mental Attitude) merupakan langkah awal membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan, baik untuk diri sendiri, orang lain dan juga untuk kebersamaan dengan mahluk-mahluk lainnya.

Sikap Mental Positif pertama kali dikenalkan oleh Napoleon Hill dan W. Clement Stone. Sikap Mental Positif adalah filosofi hidup dengan sikap optimis dalam setiap situasi kehidupan, apa pun situasi yang dihadapi. Sikap Mental Positif merupakan sikap yang sehat bagi pertumbuhan diri dan lingkungan karena dilandasi oleh integritas, harapan, optimisme, inisiatif, keberanian, kemurahan hati, toleransi, kebijaksanaan, kebaikan dan akal sehat yang baik.

Dari pikiran yang positif dan dilandasi cinta-kasih, terbentuk sikap mental positif, dan kemudian menjadi ucapan dan perbuatan yang positif bagi diri sendiri dan orang lain.

Fikiran, ucapan, dan perbuatan adalah satu kesatuan terintegrasi yang saling mempengaruhi. Fikiran mempengaruhi ucapan dan perbuatan; demikian juga ucapan dan perbuatan mempengaruhi fikiran.

Beberapa langkah sederhana untuk membangun Sikap Mental Positif adalah:
• Mulai mengubah persepsi dan membangun sikap mental baru, “Saya adalah Jiwa suci penuh cinta-kasih yang memiliki tubuh, akal-fikiran dan intelek”, tinggalkan pemahaman lama “Saya adalah tubuh yang memiliki jiwa”.
• Kasihi dan sayangi tubuh, akal-fikiran dan intelekmu karena ia merupakan tempat suci bagi bersemayamnya Diri Sejatimu, Jiwa.
• Jadilah dirimu sendiri. Terimalah dirimu dan hargai dirimu sendiri. Setiap orang diberi karunia yang sama oleh Tuhan, hanya berbeda-beda bentuknya. Dengan memberi penghargaan pada diri sendiri maka engkau dapat bertumbuh sehat dan dapat menghargai orang lain.
• Senantiasa positif dan optimis. Keseharian hidupmu sepenuhnya dalam kendali dirimu, engkau adalah raja bagi pikiranmu dan ratu bagi hatinuranimu. Apa pun situasi yang engkau hadapi tidaklah penting, karena yang terpenting adalah bagaimana sikapmu menghadapi situasi tersebut.
• Belajar dan kembangkan kebiasaan untuk memiliki sense of humor karena akan menjadikanmu hidup riang penuh sukacita dan rasa humor itu mengeluarkan racun-racun emosi dalam dirimu.
• Ketahuilah bahwa bersikap positif dan optimis akan menjadikanmu hidup lebih sehat secara fisik, mental, dan hubungan social; sehingga engkau jadi awet muda.
• Ketahuilah bahwa bersikap positif dan optimis akan mempengaruhi orang lain juga bersikap positif padamu dan memberi motivasi pada dirimu dan orang lain saat kalian menghadapi situasi sulit.
• Belajarlah untuk senantiasa bersyukur, apa pun keadaan dan situasi yang engkau hadapi. Sikap syukur ini akan memberimu energi hidup yang jauh lebih kuat untukmu menghadapi hari-harimu.
• Lihatlah orang lain sebagai bagian dari dirimu. Orang lain dan dirimu adalah sama-sama berasal dari Tuhan yang sama, sama-sama saling membutuhkan, dan sama-sama saling melengkapi dalam mengisi kehidupan.
• Layani orang lain dengan tulus sebagai ekspresi cinta-kasihmu dan bentukmu melayani dirimu sendiri dan melayani Tuhan; tentunya sesuai batas kemampuanmu.
• Sikap positif dan optimismu bersama-sama orang lain akan memberi harapan dan keyakinan untuk bersama-sama hidup ke depan lebih baik.


Tranforming Our Love into Actions

Setelah menyadari bahwa Diri Sejati kita adalah Cahaya Cinta-Kasih, dan kita hidup tidak bisa lepas dari kerja (bertindak), maka latihlah mewujudkan cinta-kasihmu ke dalam bentuk perilaku bhakti, yaitu pelayanan tanpa pamrih yang dilandasi cinta-kasih. Lakukan semua tindakan pelayanan itu dengan sukacita, dan pada saat yang sama istirahatkan Diri Sejatimu, Jiwamu, tanpa terikat pada hasil kerja itu.

Swami A. Parthasarathy, filosof modern, mahaguru spiritual sejagat, pendiri dan pemimpin Vedanta Academy, mengajarkan bahwa tindakan manusia dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori besar: Egois (Selfish), Tak Egois (Unselfish) dan Tanpa Pamrih (Selfless).

• Tindakan Egois (Selfish) adalah tindakan yang didorong oleh keinginan egosentris seseorang, untuk memenuhi minat egois, untuk mendapatkan manfaat individu. Kegiatan-kegiatan tersebut diarahkan untuk mendapatkan dan memenuhi kenikmatan pribadi.

• Tindakan Tak-Egois (Unselfish) adalah tindakan yang didorong oleh keinginan tak-egois untuk melayani kepentingan umum, seperti kegiatan yang bermanfaat bagi perusahaan, masyarakat, atau negara. Motif tindakan kehilangan stigma egoisnya, beralih ke salah satu kesejahteraan umum masyarakat.

• Tindakan Tanpa Pamrih (Selfless) adalah tindakan yang dilakukan dalam semangat penolakan, ketika seseorang mengidentifikasi dengan Diri Tertinggi, “Sang Aku”. Tidak ada ada motif egosentris mendorong tindakan. Tidak ada kecemasan untuk mendapatkan manfaat. Tindakan pekerjaan dilakukan karena pekerjaan itu sendiri.

Oleh karena itu, pesan Swami A. Parthasarathy, setiap manusia harus mengubah gaya hidupnya dari egois menuju tidak mementingkan diri dan secara bertahap naik ke tingkat tindakan tanpa pamrih. Inilah cara mencapai puncak kesempurnaan dalam kerja. Pencapaian ini menjadikan manusia bertindak tanpa lelah di dunia dengan tetap menjaga ketenangan dan kedamaian mentalnya.


Penutup

Kami sangat sadar tulisan Catatan Kecil ini terlalu panjang untuk sebuah status, namun juga terlalu pendek untuk sebuah artikel karena banyak pengetahuan yang belum Kami tuliskan. Karenanya, tulisan ini masih jauh untuk dikatakan sempurna. Untuk itu Kami mohon maaf. Kami berharap sahabat terkasih semua melengkapinya dalam komentar.

Ya Tuhan,
Ampunkanlah dosa yang datang dari kesalahan perbuatan hamba,
Ampunkanlah dosa yang datang dari kesalahan ucapan hamba,
Ampunkanlah dosa yang datang dari kesalahan fikiran hamba.
Semoga fikiran yang baik datang dari semua penjuru.
Semoga damai di fikiran, damai di bumi, damai selalu.

Selamat Hari Suci Galungan & Kuningan bagi saudaraku yang merayakan.

Referensi:
www.vedantaworld.org/
www.en.wikipedia.org/
www.ehow.com/
• A Partasarathy, “The Fall of The Human Intellect”
• A Partasarathy, “Govering Business & Relationships”
Sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=394310677289687&set=a.284116491642440.82607.100001322735400&type=3&theater


1 komentar: